Cari Blog Ini

Minggu, 20 Januari 2013

Hati-hati dengan ucapan anda....


Artrikel ini gue tulis setelah sekian lama berpikir dan membaca artikel-artikel lainnya. Lah? Iya, gue butuh referensi dalam menulis artikel ini. Jadi gini lho, gue ngerasa heran aja sebenernya sama orang-orang yang mengkritik Indonesia. Sistem yang salah lah, hukum yang gak ketat lah, penyimpangan-penyimpangan lah, pengelolaan sumber daya yang tidak efektif lah, dan masih banyak yang lain. Gue nulis artikel ini ditemani lagunya Rod Stewart yang judulnya i have told you lately that i love you. Ini lagu emang cocok banget dijadiin temen neken-neken hururf di keyboard :D. Oke ga penting juga kali ya, lanjut deh. Nah, dari sekian banyak artikel-artikel yang gue baca itu, gue berkesimpulan bahwa para writers bloggers itu pasti orang yang intelek gitu lah, gue yakin. Tapi, disamping segala kritik terhadap pemerintah, berarti harusnya ada sebuah aksi nyata yang akan dilakukan. Oke, bukan berarti gue pro pemerintah juge ye, gue hanya ngungkapin apa yang gue pikirin (cailah bahasanya).
Jadi gini lho maksudnya, kalo kita berani ngritik, berarti kita punya sesuatu yang lebih baik gitu buat diusahain. Ya kan pemirsah??
Nah begitu juga sama isi-isi artikel yang menyatakan kekurangan Indonesia itu.. Berarti sebagai bangsa Indonesia yang baik dan generasi proaktif, kita harus bisa menjadi pendongkrak kemajuan bangsa ini dong, ampun deh ngomong apaan.
Masih inget waktu salah seorang Artis luar negeri yang menyatakan Indonesia negeri antah berantah??? Pasti inget lah, gue pas denger dia bilang gitu rasanya pengen ramukin mukanya pake dot susu buat bayi dah. Meskipun ga mungkin. ya, pasti ga mungkin lah, dot susu buat bayi ukuannya ga sebanding sama muke die yang segede gaban. Gemes banget abisnya, padahal pemuja dia di Indonesia tuh banyak bangeeeeeeeeeeeet gile. Ga tau terimakasih banget tuh orang. Duh jadi emosi tuh kan gue.. Oke deh lanjut...............
Nah yang gue lihat dari ekspresi orang Indonesia tuh malah jadi murka kayak ekspresi gue diatas. Itu ekting loh, ekting. Gue sih yah, netral-netral aja. Ga murka ataupun tersinggung. Kenapa? Karena gue menyadari keantah berantahan itu. Gue salut juga, orang luar negeri aja peka sama kacaunya Indonesia saat ini. Kite kemane aje bro??? Sadar dong, negeri ini butuh diperbaiki. Jangan Cuma kritik-kritikan ga jelas. Yang jelas, MANA AKSIMU???
Gitu aja sih, gue pengen berbagi sama netters semua, ayo kita buat negeri ini lebbih baik dengan mengembalikan diri kita kepada identitas bangsa timur yang menjunjung tinggi keharmonisan alam. Semoga negeri ini menjadi negeri yang penuh berkah dan dapat menjadi negeri yang  mandiri. Aamiin...........
Sekian :)

Selasa, 11 Desember 2012

Reflection Paper



REFLECTION PAPER
Nama : Tari Purwanti
NPM   : 170510120038

Mengarungi Samudera Antropologi
         Sebelum saya memulai kuliah di jurusan antropologi, pengetahuan saya mengenai cara hidup manusia sangatlah minim bahkan saya awalnya tidak mengetahui apa-apa mengenai jurusan antropologi. Sampai akhirnya ada seorang senior yang berbagi pengalaman di jurusan antropologi dan itu merupakan sedikit support untuk saya.
         Antropologi merupakan ilmu yang berbicara tentang manusia, cara hidup dan kebudayaan yang dihasilkan manusia dalam hidupnya. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk bio-sosio-budaya. Sebagai ilmu yang mempelajari manusia, seorang antropolog harus peka terhadap isu-isu yang berkembang, dan memandang suatu yang “aneh” atau “unik” sebagai suatu perbedaan yang wajar dan mengesampingkan etnosentrisme. Dalam etika antropologi, dalam membangun sebuah pengetahuan tidak merugikan pihak lain. Yang menarik dari antropologi adalah keluasan pendekatannya bahwa setiap gejala sosial budaya selalu dikaji dalam kaitan dengan aspek sosial budaya lainnya (holistik), dan setiap gejala sosial budaya yang terjadi dikaitkan drngan gejala khusus antara keadaan ruang dan waktu (relativistik). Ada sebuah kalimat yang saya sukai mengenai antropologi, adalah sebagai berikut:
“Antropologi: ilmu manusia
Ruang lingkup, pendekatan metodologi, dan etika penelitian antropologi membuat ilmu ini: “ilmu yang paling ilmiah diantara humaniora, dan yang paling manusiawi diantara semua ilmu pengetahuan ” (the most scientific of the humanities, the most humanist of the sciences)
Eric Wolf 1964 : 88 ”
         Dalam mempelajari ilmu manusia ini saya harus mempelajari manusia dari berbagai segi, termasuk dalam segi biologisnya untuk mempelajari asal-usul manusia. Linnaeus menamai klasifikasi manusia dalam klasifikasi dengan homo sapiens, dimana homo merupakan genus manusia dan sapiens merupakan spesies manusia. Ada penyataan yang menyatakan bahwa “manusia merupakan binatang” dan saya sangat tidak setuju karena Tuhan tidak menciptakan flora dan fauna saja, namun ada makhluk lain dan manusia yang tentu saja bukan binatang.
Manusia selama hidupnya akan selalu menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan lingkungan yang disebut sebagai adaptadi biologis manusia. Respon manusia terhadap lingkungan meliputi perubahan genetik, penyesuaian perkembangan, aklimatisasi, dan praktek budaya dan teknologi. Ciri khas manusia dalam kaitannya dengan letak geografis juga berbeda satu sama lain. Seperti warna kulit, bentuk dagu, hidung, tinggi tubuh rata-rata, bentuk rambut, dan bentuk wajah.
Ras, rasisme dan perbudakan juga tidak luput perhatian antropolog. Perbedaan ras dan perbudakan menjadi kajian antropologi dalam sejarah kehidupan manusia. Dimana kemudian ras ini muncul sebagai suatu penggolongan manusia kedalam kelompok-kelompok sebagai obsesi orang Amerika.
         Materi yang menurut saya paling menarik adalah mengenai kebudayaan. Dimana kebudayaan merupakan suatu konsep cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian diekspresikan melalui perilakunya. Menurut Spradley, kebudayaan ada dalam kepala setiap orang, terwujud dalam perilakunya. Dalam buku Koentjaraningrat, dikenal tujuh unsur kebudayaan yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, teknologi, mata pencaharian, sistem religi dan kesenian. Menurut Koentjaraningrat, Kebudayaan diidentifikasi mengenai wujudnya yaitu meliputi kebudayaan fisik, tingkah laku, sistem gagasan, dan sistem gagasan ideologis. Sedangkan menurut J.J Honigmann (1973) kebudayaan dibagi menjadi tiga wujud yaitu gagasan, kegiatan, dan benda/artefak. Semua aktifitas  kebudayaan berfungsi memenuhi hasrat manusia.
Saya juga belajar mengenai etnografi yang merupakan suatu metode penelitian atau produk penelitian yang akhirnya mengajak kami melakukan penelitian lapangan sebagai bentuk aplikasi dari belajar etnografi. Dalam etnografi dikenal strategi penelitian, teknik pengumpulan data, alat pengumpul data, dan lain-lain. Selain itu juga dipelajari mengenai bahasa dan budaya sebagai sistem simbol untuk berkomunikasi. Dalam pembahasan mengenai budaya juga dijelaskan bahwa ada lebih dari sekitar 200 bahasa di dunia. Selain itu juga dikenal aspek tersembunyi komunikasi seperti paralanguage dan kinersika.
Berbicara mengenai manusia sebagai  makhluk sosial berarti mempelajari manusia dalam hubungannya dengan manusia lain untuk bertahan hidup. Dalam kehidupan manusia dikenal adanya organisasi sosial dan sistem kekerabatan. Ini merupakan materi pembahasan yang cukup menarik dimana kami diharuskan menuliskan asal-usul keluarga  dengan menggambar simbol-simbol kekerabatan.
         Beberapa pertemuan selanjutnya saya belajar mengenai antropologi religi. Yaitu suatu kajian antropologi dalam mempelajari manusia kaitannya dengan ritual-ritual keagamaan yang biasanya menyangkut pemujaan, penghormatan terhadap kekuatan supranatural untuk memahami eksistensi manusia dalam hakikat makna, hakikat kematian, dan hakikat bencana. Ada salah satu kerabat saya bertanya tentang atheisme yang mengaitkan sisi religi dengan logika. Dan uniknya ternyata orang-orang atheispun berkata: “oh my god!” ketika bencana melandanya.
         Ada materi antropologi mengenai ritus peralihan. Sebenarnya ini materi antropologi yang sulit saya pahami karena saya juga tidak mengerti makna dari sebuah ritus peralihan itu sendiri dalam kehidupan manusia. Menurut Arthur Van Gennep ritus peralihan merupakan berbagai ritual dalam masyarakat sebagai ritual peralihan. Merupakan hal penting untuk menandai status dan peran mmasing-masing orang dalam masyarakat. Dalam pelaksanaannya, ritus dibagi dalam tiga tahap yaitu separasi sebagai pemisahan kandidat dari golongan dari kehidupan sehari-hari dan kemudian hak-hak yang telah dimilikinya dicabut. Tahap liminal yaitu merupakan tahap ketidakpastian, masa penuh kesulitan yang dialami kandidat. Tahap terakhir adalah tahap inkorporasi, yaitu pengembalian kandidat kepada kelompok dengan statur dan atribut baru, juga status yang lebih tinggi dari status sebelumnya.
         Dalam antropologi juga dikenal antropologi ekonomi yang memusatkan perhatiannya terhadap kehidupan ekonomi manusia dalam konteks kebudayaaan total masyarakat di negara industri maupun nonindustri. Pemikiran antropolog dalam mengkaji ekonomi dibagi menjadi dua yaitu subtantivis dan formalis. Subtantivis berpandangan bahwa dalam memahami bagaimana manusia hidup, tidak boleh berpikir bahwa orang-orang selama hidupnya akan selalu mencari keuntungan. Pandangan ini bertolak belakang dengan teori formalis yang mengatakan bahwa setiap orang dalam hidupnya pasti mencari keuntungan.
         Selain mempelajari hal-hal yang tadi saya sebutkan, dalam antropologi juga dipelajari mngenai kepribadian. Bahwa kepribadian itu merupakan ciri-ciri watak indibisu yang tampak, konsisten, dan konsekuen, sehingga menjadi suatu identitas yang membedakannya dari individu lain (Koentjaraningrat 1990 : 102). Unsur-unsur kepribadian adlah pengetahuan, perasaan, dan dorongan (drives). Antropologi mempelajari dan membuat tipologi kepribadian umum: watak yang menonjol pada suatu masyarakat.
         Antropologi juga mempelajari manusia dalam maksimisasi dan pengiritan sumber daya. Dalam pembahasan ini dikenal adanya dana alokasi, dana penggantian, dana sosial, dana ekonomi, dan dana sewa. Mengapa ada pembahasan ini? Mungkin jawabannya adalah karena selama hidupnya manusia selalu dihadapkan pada berbagai kebutuhan yang menuntut untuk selalu dipenuhi namun alat pemuas kebutuhan yang terbatas mengharuskan manusia menggunakan sumber daya seefisien dan seefektif mungkin. Sebagai pengaplikasian dari materi ini, kami lalu diberikan tugas mengenai pengalokasian dana perbulan oleh salah satu dosen mata kuliah.
         Seperti yang sudah saya jelaskan diatas bahwa manusia adalah makhluk sosial yang kemudian hidup berkelompok, manusia juga mempunyai cara-cara hidup berpolitik dan birokrasi dalam kelompoknya. Sistem politik yang paling sederhana adalah bands, diikuti oleh tribes dan chiefdom seslanjutnya lebih maju lagi adalah state yang terbagi menjadi praindustrial dan industrial. Bands adalah masyarakat sederhana yang memiliki strategi adaptasi sebagai masyarakat yang berburu dan meramu yang mekanisme intergrasi utamanya adalah kekerabatan (egaliter), dan struktur politiknya bersifat temporer. Chiefdom adalah masyarakat berladang/gembala yang sudah lebih kompleks dari band. Chiefdom adalah masyarakat yang memiliki sistem pertanian intensif dan bukan merupakan masyarakat egaliter, serta kepemimpinannya bersifat penuh. State adalah masyarakat yang melakukan intennsifikasi pertanian secara luas, dengan mengukur masyarakat berdasarkan pada kekayaan, kekuasaan, gengsi sosial, dan struktur otoritas berbentuk piramida.
         Materi selanjutnya yang saya pelajari adalah mengenai gender. Awalnya yang terpikirkan oleh saya gender adalah jenis kelamijn. Setelah belajar lebih dalam mengenai gender, ternyata gender adalah pembedaan jenis kelamin secara biologis yang kemudian dibedakan fungsi dan peranan antara perempuan dan lelaki oleh sosial budaya. Memang perbedaan gender merupakan kajian yang menarik dalam antropologi seperti mengenai kekuasaan yang umumnya berada di tangan lelaki dan perempuan hanya berkuasa di dalam rumah. Perbedaan peran dan kekuasaan berdasarkan gender tidak hanya dalam politik, melainkan juga dalam hukum, ekonomi, dan dalam bahasa. Perbedaan gender juga menjadi masalah sosial dimana sering terjadinya ketidakadilan gender.
         Materi terakhir yang dipelajarai dalam antropologi adalah antropologi terapan. Menurut Spradley dan Mc. Curdy antropologi terapan mencakup semua penggunaan pengetahuan antropologi untuk mempengaruhi, menjaga, dan mengubah interaksi sosial atau mengarahkan suatu perubahan sosial. Spradley dan Mc. Curdy mengkategorikan antropologi terapan menjadi :
1.      Adjustmen anthropology, banyak digunakan dan bermanfaat dalam tataran individual daripada suatu komunitas.
2.      Administrative anthropology, lebih banyaj beroperasi dalam konteks komunitas dan perubahan kebudayaan
3.      Action anthropology, pemanfaatan pengetahuan antropologi untuk perubahan yang direncanakan
4.      Advocate, pemanfaatan pengetahuan antropologi untuk meningkatkan dan memperkuat kuasa dan penentuan nasib sendiri. Tujuannya untuk demokratisasi.
Mempelajari antropologi berarti mempelajari manusia dalam segala aspek untuk mendapat suatu pemahaman menyeluruh mengenai manusia. Saya menyadari bahwa saya harus banyak belajar untuk dapat lebih baik lagi belajar di jurusan antropologi.

Kamis, 06 Desember 2012

What The........... ???????? 07/12/2012

Kemaren gue sama bokap mutusin buat k daerah Braga mau ngebenerin laptop gue yang ngadat. ogah-ogahan, pagi-pagi gue udah mandi dan sarapan. "ini hape udah mau diganti nih kayaknya, udah error gini -_-" kata gue ke temen sekamar gue. "ya tinggal ganti.." timbal temen gue itu. "iya deh ntar kalo ada duit nganggur".
bokap jemput gue di kostan. gue awalnya nimbang-nimbang antara bawa jas hujan atau payung. akhirnya gue ga bawa keduanya. kita (gue sama bokap) mulai naek kendaraan dan menembus hiruk-pikuk kampus gue. kebetulan hari ini dosen pada ke luar kota jadi ga ada mata kuliah, makanya gue kemaren tuh nelfon bokap buat ngebenerin laptop gue yang ga tiba-tiba ga bisa masuk windows.
Di Bandung, gue sama bokap keliling-keliling dulu sebelum ke tempat yang mau gue tuju.
"mau bubur ayam gak?" "mau mau pah :D" jawab gue. kita kemudian makan bubur ayam yang cukup enak disitu. seperti biasa, karena gue ga suka kecap jadinya gue cuma makan yang putihnya aja karena lupa bilang k si mas nya ga usah pake kecap. Brrrrrrr.........
Setelah kenyang, kita memutuskan buat ngelanjutin perjalanan karena hari mulai hujan. mau berteduh di tukang bubur kasian entar kalo ada pengunjung. sempit banget soalnya tempatnya.
Gue dan bokap menembus hujan buat nyari tempat berteduh yang aman.
baru juga mau ngabarin ke temen gue kalo gue ada daerah rumahnya, tiba-tiba............ enk ink enk... HP GUE GAK ADA !!!!
gue berusaha tenang meskipun sebenernya panik banget. aduh. itu hape penting banget buat gue, disana ada banyak data pribadi gue juga -_-
akhirnya gue harus bilang ke bokap: "pah, hape ga ada" "hah?? kenapa bisa ga ada? udah dicari di jaket?" "ga ada.." bokap gue mulai khawatir gue nangis di jalan. ogah lah, banyak orang dan hujan gede banget. biarinlah air mata gue yang harusnya jatuh diganti dengan air hujan.
Oke gue sama bokap jalan lagi mau nyari tu hape (ngarepnya sih ketemu di tukang bubur). Begitu nyampe di tulang bubur yang tadi gue kunjungi eh ternyata ga ada dan tukang buburnya bilang ga nemuin apa-apa. akhirnya gue pasrah aja mungkin udah takdirnya gue harus kehilangan hape yang tadi pagi gue bilang 'mau diganti'.
Akhirnya hari itu gue sama bokap ke tempat servis laptop dan beli hp baru soalnya gue butuh banget tuh hape.
Gue udah beli plus sim cardnya.. dan gue inget kalo semua nomor-nomor penting tuh ada di hape gue yang ilang termasuk nomor calon tunangan gue. Wuaaaaaaaaa parah banget.
Bingung.
resah.
pusing.
Oke sampe pusing dulu. Next, gue pulang ke rumah family gue. gue mulai nyalain modem dan ngabarin nomor gue ganti di grup FB dan twitter yang penting buat masa depan gue. Ternyata, alhamdulillah, Allah masih sayang sama gue. Mbak gue masih nyimpen nomor calon tunangan gue. Gue telefon tuh, eh gak aktif. Trus gue kabari lewat facebook, dan konyolnya tuh dia lagi sibuk akhir-akhir ini, boro-boro buka facebook, ngabarin gue aja jarang :(
yaudah gue tetep kabari aja deh tuh di FB, dan gue cuma berharap dia bakal buka facebooknya.
Sampe tengah malem gue gak bisa tidur, malah ngantuk doang tapi ga bisa maksain tidur juga. Gue belum tenang kalo tunangan  gue belum aktif nomornya, khawatir nomornya ilang. :(
Besok paginya gue dapet pemberitahuan dari operator kalo nomor calon tunangan gue udah bisa dihubungi. :)

Another My Story



Another my story J
Semilir angin menemaniku sore itu. Belaiannya menggoyangkan rerumputan yang sedari tadi kupandangi. Tanah retak kecoklatan menjadi alas dudukku. Kemarau kali ini terlalu panjang, seharusnya ini sudah menapaki musim hujan menurutku. “lagi ngapain kamu disini nak?”Ibu membangunkan lamunanku. “gapapa bu, pengen menikmati sore terakhir di kota” jawabku sembari menatap ke langit yang mulai bersiluet senja. “ya sudah, ibu tinggal ya..” kata ibu sambil menepuk pundakku dan hanya kujawab dengan anggukkan.
Besok pagi aku harus segera bersiap pergi ke luar kota. Tepatnya ke tempat dimana nenek dan abahku tinggal. Entahlah, perasaan rindu akan keluarga di kota sudah muncul terlebih dahulu padahal aku belum berpisah dengan orangtuaku. Sebenarnya tujuanku ke desa adalah karena saran dari orangtuaku. Abahku  adalah  seorang petani yang juga sebagai pendiri pondok pesantren di desa. Sedangkan nenekku adalah seorang aktivis yang masih sangat aktif mengikuti pengajian-pengajian di desa, antar kampung, bahkan pernah nenek sampai pergi ke luar kota untuk sekedar mengikuti pengajian yang diadakan oleh radio swasta di Bandung. Well, rumah nenekku bukan di Bandung, tapi di Jatinangor, dekat dengan kampusku.
Pagi-pagi sekali ayah sudah memanaskan mesin mobil dan barang-barang yang perlu kubawa sudah masuk bagasi semua. Ibu rupanya sedang mengelap beberapa piring yang baru selesai dicuci. “Baru bangun nak? Mandi dulu sana” suruh ibu sebelum sempat kujawab pertanyaannya sebelumnya. “bentar dulu ah, laper banget nih bu” tukasku sambil menghampiri meja makan. “eeeeh... mandi dulu Oki...” “Bentar bu,” jawabku enteng sambil mengoleskan selai kacang diatas roti dan menumpuknya hingga empat lapis. Ibu hanya memperhatikanku sambil terus mengusapkan lap di permukaan piring.
“Nanti di desa kamu bakal banyak belajar tentang kehidupan” tiba-tiba ayah menepuk pundakku dan langsung duduk disampingku,  kemudian mengambil selembar roti. Aku yang belum sempat menelan roti di mulutku kesusahan untuk bertanya dan kemudian aku hanya diam. “nanti, abah dan nenek akan menunjukkan banyak hal luar biasa yang sangat berbeda sama kehidupan kita di kota.” Ayah melanjutkan sambil tangannya sibuk mengoleskan selai strawberi diatas rotinya. “kamu harus terbiasa tinggal disana Ki, kamu akan hidup disaana selama empat tahun. Kalo kamu ketemu jodoh disana bisa-bisa kamu ga mau balik kesini lagi.” Ibu menimpali diiringi tawa renyahnya.
***
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku segera turun ke lantai dasar untuk menemui ayah di garasi. Ayah dan ibu sudah menungguku sedari tadi. Ini akibat tadi malam aku tidur terlalu malam hingga bangun kesiangan dan akhirnya membuatku tergesa-gesa. “yuk bu,” ajak ayah sambil membukakan pintu mobil untuk ibu. Aku setengah berlari dari tangga agar bisa segera menghenyakkan pantatku di jok mobil. “wah, koq jadi wangi yah mobilnya?” aku sedikit berbasa-basi ketika sudah duduk di jok. “harus dong Ki, jadi kan yang bawanya juga nyaman, ga kayak kamar kamu tuh. Ga bikin nyaman penghuninya.” Canda ayah yang diiringi tawa kami bertiga. “Oke Jatinangor, kami dataaaaaaaaang......” teriakku girang ketika ayah mulai menstarter mobil.
Kami tiba di Jatinangor sekitar pukul dua belas siang. Sepanjang perjalanan kami bernyanyi bersama, menonton film, dan sempat makan bersama di rest area. “yah, di desa tuh kebudayaannya masih kentel gitu ya?” “waktu terakhir ayah kesana sih masih cukup kental Ki, tapi kesini-kesini, anak-anak muda seusia kamu itu tidak menyadari identitasnya. Mereka terhanyut oleh gelombang globalisasi yang menuntut mereka serba terbuka” ada penekanan dalam kata ‘terbuka’ yang ayah ucapkan. Aku tidak mengerti maksud ayah. Begitu kutanya maksudnya, ayah malah menyuruhku mencari tahu apa sebenarnya menjadi problematika yang terjadi di desa Jatinangor ini.
Setelah melewati jalan sempit menuju rumah nenek, akhirnya kami tiba di depan rumah neneh dan abahku. Nenek sudah menyambut kami di depan gerbang rumahnya. “Nembe dugi jang?”(baca: baru tiba nak?) tanya abah sambil menghampiri ayahku lalu mereka berpelukan. Kakek juga memelukku. “Alhamdulillah atos bah” (baca: Alhammdulillah sudah bah). Abah berpakaian laiknya seorang kyai, dengan gamis gombrang panjang hingga diatas mata kaki, dan nenek menggunakan jilbab panjang hingga bawahannya menyentuh lantai. Aku merasa tidak sedang berada di Indonesia, tapi di Arab Saudi. Entah darimana pikiran seperti itu muncul.
Untuk beberapa saat ayah dan kakek berdialog dalam bahasa sunda, namun skakek memaklumi bahwa ibu dan aku tidak mahir berbicara bahasa Sunda. Aku sedikit-sedikit mengerti bahasa sunda walaupun tidak lancar dalam berbicara bahasa sunda. Ibuku asli Padang, dan ayahku asli Sunda, tapi kami tinggal di Jakarta. Sedikit-sedikit aku mengerti bahasa Sunda dan Padang. “ieu nu kasep teh? Euleuh-euleuh.. meni tos ageung cu,” (baca: ini yang ganteng tuh? Ya ampuuun... sudah besar ternyata cu,) nenek menghampiri ibu dan aku sambil menyerahkan tangannya padaku, untuk cium tangan. Nenek kemudian berpelukan dengan ibu. Aku memeluk diriku sendiri, hehe. “Yuk masuk dulu,” ajak abah kepada kami bertiga.
Rumah nenek terlihat sederhana dari luar, namun begitu masuk ke dalam, suasananya seperti hotel-hotel berbintang tiga di Jakarta. Lumayan lah...
Untuk beberapa saat keluarga ayah saling melepas rindu. Beberapa saudara ayah juga ada di rumah ini. Semuanya baik dan ramah terhadapku. Aku juga dikenalkan dengan sepupuku yang bernama Mega yang juga akan memulai kuliah di universitas yang sama denganku. Yah.. untuk mahasiswa baru seperti kami, setidaknya disini aku sudah punya kenalan di desa. 
Setelah beberapa saat melepas rindu, abah menunjukkan kamarku yang berada di pesantren putra di pondok pesantrennya. Letak pondok pesantren yang didirikan abah tidak jauh dari rumahnya, hanya sekitar 20 meter. Kamarku berada di lantai dua. Abah dan ayahku membawakan beberapa barang-barangku dan aku membawa beberapa barang juga yang lebih ringan.
Kamar baruku berukuran 4x6 dengan kamar mandi di pojok kiri. Di dalam kamar sudah ada dua buah kasur, dua buah meja belajar, dan dua buah lemari kecil untuk pakaian. “nanti saya tidurnya berdua bah?” “kalau kamu mau ya silahkan nak, kalaupun tidak abah bisa mengondisikan kamu biar tetap tidur sendiri” jawab kakek tenang sambil meletakkan kunci kamar diatas meja belajar. “Oh.. begitu ya bah. Saya ingin sendiri aja bah, soalnya gak biasa kalo ada yang tidur sekamar” terangku sambil tersenyum. Ayah hanya tersenyum sambil mengeluarkan barang-barangku.
***
Malam ini aku mulai tidur di ponpes abahku. Oh iya, nama pon pes ini adalah Riyadhlul Muttaqin. Ponpes ini dihuni oleh beberapa mahasiswa yang satu universitas denganku dan beberapa siswa SMA yang berada ridak jauh dari lokasi ponpes. Sebenarnya, kalau dilihat-lihat, ponpes ini tidak seperti pondok pesantren pada umumnya, tapi lebih mirip kost-kostan. Kakek bilang, setelah para alumni ponpes pindah ke luar kota atau pulang ke daerahnya, aktivitas di ponpes menjadi kurang bergairah. Sangat jarang diperdengarkan lantunan ayat al-Qur’an setiap malam dan dini hari. Kakek sebetulnya sangat ingin menghidupkan kembali kegiatan di ponpes namun kegiatan pada penghuni ponpes sudah cukup padat dengan segala aktifitasnya di kampus. Aktifitas yang masih dilaksanakan hingga saat ini adalah diskusi keagamaan dan tahsin, atau belajar membaca al-Qur’an. Ayah dan ibu belum pulang ke Jakarta, mereka masih ada di rumah abah. Sedangkan aku sedang menikmati kamar baru yang nantinya akan menjadi tempat istirahatku hingga empat tahun lamanya.
Angin malam terasa dingin disini. Mungkin karena tubuhku belum menyesuaikan diri dengan iklim di desa. Aku membongkar tas yang berisi baju-bajuku mencari jaket kesayanganku. Tiba-tiba aku tertarik dengan sesuatu yang dibungkus ibu dengan kertas kado. Aku membukanya dan kutemukan surat kecil diatas isi kado tersebut.
hangatkan kamar ini dengan bacaan ayat al-Qur’an ya sayang, dari ibu
“Ibu.. ibu. Gimana bisa nanti aku gak kangen sama ibu dan ayah..” gumamku sambil menatap al-Qur’an ditanganku.
***
Keesokan harinya, ibu dan ayah pamit pulang ke Jakarta. Ibu memberiku banyak nasehat, begitupun ayah. Ayah sampai memelukku beberapa kali dan ibu mencium keningku. Sebenarnya aku agak tengsin juga, aku kan cowok, udah 17th juga, tapi diperlakukan seperti anak SD. Didepan keluarga ayahku pula, ada Mega lagi. Hahh.. tapi aku bersikap biasa aja seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal aku tahu Mega tadi sempat seperti menahan ketawa melihat perlakuan orangtuaku terhadapku.
Seminggu pertama di pesantren ini kuisi dengan belajar ayat suci kepada abahku dan nongkrong bersama teman-teman ikhwan di asrama. Kebanyakan dari mereka berasal dari Tasikmalaya dan Puncak. Namun yang membuatku heran adalah mereka tidak menggunakan bahasa sunda seperti abah dan nenekku. Mereka menggunakan bahasa yang digunakan adalah percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa sunda. Malah sering kudengar mereka berbicara dengan kebudayaan betawi berikut logatnya. Disinilah aku mulai melihat apa yang kuanggap “tidak sesuai”.
“Eh lu udah tau belum katanya besok ada acara bagus di Universitas kita?” salah seorang teman membuyarkan lamunanku dengan menepuk pundakku tiba-tiba. “acara apaan? Baru denger tuh gue,” jawabku. Sedikit aneh, aku mengenalnya sebagai Fadli anak Tasikmalaya. Dia asli keturunan sunda. Tapi dia berbicara laiknya orang Jakarta dengan menggunakan bahasa daerah dari betawi. Yah meskipun orangtuaku bukan asli Jakarta, tapi tanah kelahiranku Jakarta dan aku tinggal disana selama lebih dari tujuh belas tahun. Yang tak terpikirkan, aku sekarang berada di tanah sunda dan aku harus menyesuaikan diri dengan bahasa sunda namun orang sundanya sendiri malah berbuat demikian. Seperti salah seorang teman berkata bahwa orang luarlah yang harus beradaptasi dengan dunia barunya di tanah sunda, namun yang terjadi sekarang adalah orang sunda yang mengadaptadikan dirinya dengan budaya luar.
Singkat cerita, Fadli memberitahuku bahwa beberapa minggu lagi akan ada festival di universitasku. Dia selanjutnya bercerita tentang dirinya dan masa sekolahnya. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum karena jujur saja, sedikit geli mendengar orang sunda dengan logat sundanya tapi bahasa yang digunakan adalah bahasa dari betawi.
***
Malam ini aku sengaja tidak tidur di kamarku. Aku ingin mendekatkan diri dengan beberapa teman di pesantren ini dengan menonton bola bersama-sama dan tidur bersama-sama di depan televisi yang ada di tengah-tengah bangunan pesantren. Disini mereka yang asli sunda bergabung dan berbicara dengan bahasa sunda, orang Padang dan Jawa Tengahpun demikian. Mereka berbicara. Mungkin terlihat seperti berkubu-kubu, namun disini tidak mengenal perpecahan. Semuanya bersama-sama. Akupun melihat Fadli bergabung dengan beberapa orang yang asli dari suku sunda.
“heh, bengong aja lu. Sini gabung !” Ajak Fadli kepadaku.
“Oh oke siap” aku lalu menghampiri tempatnya bersama teman-teman yang lain. Ada Andi, Reza, Fadlan, Rizki, zaid, Dega, Offend, dan Azis. Mereka semua terlihat sangat akrab dan senang bercanda. Rizki, Zaid dam Offend bukan dari keturunan sunda, tapi mereka asli anak ibu kota yang telah lama tinggal dan berhasil menyesuaikan diri dengan budaya disini.
Kami mengobrol untuk waktu yang lama sambil menunggu acara bola dimulai. Yang menyebalkan, ketika meraka berbicara denegan bahasa sunda dan sengaja dengan tangan menunjuk-nunjuk kepadaku sambil terkekeh-kekeh. Siapapun yang tidak mengerti bahasa sunda pasti mengira dia sedang membicarakan oarang yang ditunjuknya. Ternyata Zaid bilang bahwa mereka hanya mencandaiku. Padahal aku hampir saja mau pergi dari tempat itu karena merasa tidak enak.
To be continued.............

Selasa, 27 November 2012


SOMETHING OUT OF THERE

"Ih keren deh langitnya.. Aku paling suka kalo lagi sunset gini, warna langitnya indah bangeeeet :) Subhanallah..."
"Dimana"
"Di arah barat, liat deh :D "
"Gua buta arah >.<, yaudah nikmatin aja sebelum ilang"

Entah kenapa rasanya kata-kata tersebut begitu menusuk kedalam hatiku. Menikmati sebelum hilang. Tentu saja semua yang diawali pasti berakhir. Seperti sunset yang aku lihat tadi. Perlahan tapi pasti langit akan berubah menjadi dark blue. Mungkin akan tetap indah jika banyak bertabur bintang disana. Namun bagaimana jika malam ini hujan? Bintang akan tersamarkan bahkan tertutup pekatnya awan.
Dari kecil aku suka sekali memperhatikan langit, apalagi yang penuh bintang. Pernah suatu ketika salah satu temanku memberitahuku bahwa dini hari esok harinya akan terjadi hujan meteor yang dapat dinikmati dengan mata telanjang. Tentu saja aku begitu bersemangat untuk menyaksikan kejadian langka itu, namun aku malah ketiduran hingga esok paginya sehingga momen tersebut terlewatkan. Sayang sekali.
***

Hari ini tanggal 31 Oktober 2012, gue resmi jadi penghuni kamar A31 di asrama yang ada si universitas dimana gue menimba ilmu.
Hari pertama gue jadi diri gue yang sepenuhnya dan ga akan tergantung sama orang tua gue lagi.
Gue harus bisa.

"Emang muslim harus malu ya? Baru tau -___-" Aku suka sama kamu"
Masih juga teringat sms dia yang hari ini benar-benar aneh. Dia dingin dan cuek banget beberapa hari ini.
Dia ga kelihatan bahagia, dia mungkin ngerasain fase galau gitu ya, kan kalo lagi berusaha buat move on tuh biasanya ngerasa hampa-hampa gak jelas..
Dia bisa gak yah move on dari aku? aku harap sih ngga. Aku juga heran sih..
Rasanya tuh gak enak banget di move on-in -_-
Ya bener kata temennya, itu juga karena aku yang ga mau punya pacar.
Hmmmm........
***